Kalau kamu berkecimpung di dunia search engine optimization (SEO) selama lebih dari lima tahun, pasti ingat masa-masa di mana SEO terasa jauh lebih sederhana dan mudah. Cukup bikin konten yang lumayan panjang, sisipkan kata kunci sana-sini, lalu beli ratusan backlink dari forum atau private blog network (PBN). Hasilnya? Biasanya gampang masuk halaman satu Google.
Akan tetapi, saat ini di era AI, semuanya berbeda. Hadirnya fitur seperti AI Overviews di Google, ChatGPT Search, hingga Perplexity membuat cara orang mencari informasi tak lagi sama seperti dulu. Pembaca tidak perlu lagi mengklik web-web berbeda untuk mencari jawaban karena AI merangkum semuanya langsung di halaman hasil pencarian sehingga akan membuat zero-click search pada website kamu.
Perubahan tersebut membuat sebagian pemilik website bertanya-tanya apakah strategi SEO yang selama ini mereka gunakan seperti backlink masih menjadi faktor penentu dalam SEO di era AI, atau justru sudah kehilangan pengaruhnya?
Selama bertahun-tahun, backlink dianggap sebagai salah satu modal untuk meningkatkan posisi website di hasil pencarian. Banyak pakar SEO menghabiskan waktu dan anggaran untuk mendapatkan tautan dari website lain dengan harapan halaman mereka bisa bersaing di halaman pertama Google.
Namun, ketika sekarang hasil pencarian mulai menampilkan jawaban berbasis AI, cara lama tersebut perlu dievaluasi kembali. jadi apakah jumlah backlink masih sepower dulu? Apakah website dengan sedikit backlink tetap bisa mengalahkan pesaing yang memiliki ribuan backlink? Dan apakah backlink bisa membantu sebuah brand lebih dikenal oleh sistem AI?
Jawabannya tidak sesederhana backlink masih penting atau backlink sudah tidak berguna. Backlink tetap sangat penting dalam SEO, tetapi nilainya tidak bisa dinilai dari banyaknya jumlah tautan.
Relevansi sumber, konteks tautan, kualitas halaman, reputasi website, dan manfaatnya bagi pengguna perlu diperhitungkan. Di sisi lain, pemilik website juga harus memperhatikan kualitas konten, pengalaman pengunjung, performa website, serta kemampuan brand membangun kepercayaan di luar mesin pencari.
Untuk memahami nasib backlink sekarang, kita harus paham dulu bagaimana mesin pencari berbasis AI memproses informasi.
Cara AI Memproses Informasi dari Berbagai Sumber
Dulu, algoritma search engines bekerja secara literal berdasarkan pemetaan kata kunci (keyword matching) dan perhitungan matematis seperti PageRank. Semakin banyak situs lain yang merujuk (memberi link) ke situs kamu, Google berasumsi situs kamu cukup populer atau terkenal.
Sekarang, Google dan mesin AI menggunakan Large Language Models (LLM) dan pencarian semantik (semantic search). AI tidak cuma membaca kata demi kata, tapi memahami konteks, entitas, dan tingkat keakuratan informasi.
Pengunjung tidak selalu harus membuka satu per satu hasil pencarian untuk menemukan jawaban. Dalam pencarian tertentu, Google dapat menampilkan ringkasan AI yang merangkum informasi dari beberapa sumber dan menyediakan tautan untuk membaca lebih lanjut.
Artinya, pemilik website tidak perlu terburu-buru mengganti seluruh strategi hanya karena AI. Yang perlu dilakukan adalah memperluas cara memandang SEO. Backlink masih menjadi bagian dari strategi yang cukup penting.
Apakah backlink bisa membuat website otomatis dikutip oleh AI? Sampai saat ini, tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa semakin banyak backlink, semakin besar kemungkinan sebuah website dipilih sebagai sumber jawaban AI.
Google menjelaskan bahwa AI Overviews dan AI Mode menggunakan sistem yang berbeda dari pencarian biasa dalam menentukan informasi serta tautan yang ditampilkan. Google juga tidak mensyaratkan optimasi khusus selain SEO yang sudah ada.
Pertanyaannya adalah bagaimana AI menentukan data mana yang masuk ke dalam daftar pencarian awal (retrieval stage) sebelum merangkumnya?
Jawabannya kembali ke otoritas domain dan E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness). Dan faktor terbesar yang membangun otoritas tersebut di mata mesin pencari tetaplah backlink yang berkualitas.
Situs yang tidak memiliki backlink atau hanya memiliki backlink sampah sangat jarang muncul sebagai sumber rujukan dalam AI Overviews. AI menganggap situs tanpa rujukan luar adalah sebagai situs yang belum teruji kualitasnya.
Cara Google Memahami Nilai Sebuah Backlink
Backlink adalah tautan pada website lain yang mengarah ke halaman website kita. Dalam SEO, tautan ini sering disebut sebagai tautan masuk atau inbound link. Ketika sebuah artikel teknologi merujuk ke tutorial instalasi software di website lain karena panduan tersebut membantu pembaca, artinya tautan tersebut memiliki konteks yang jelas. Jadi pembaca bisa menggunakannya untuk memperoleh informasi tambahan, sedangkan mesin pencari bisa menemukan hubungan antara kedua halaman tersebut.
Konteks menjadi penting karena tidak semua tautan memiliki tujuan yang sama. Tautan yang muncul dalam artikel pembahasan mendalam tentu berbeda dari tautan yang ditempatkan di sidebar atau footer puluhan ribu halaman tanpa hubungan dengan topik website.
Demikian pula, tautan yang benar-benar membantu pembaca berbeda dari tautan yang sengaja dibuat hanya untuk memanipulasi saja. Google menyediakan panduan mengenai penggunaan tautan yang dapat dirayapi dan penulisan teks tautan yang membantu pembaca serta mesin pencari memahami tujuan halaman yang dituju.
Anchor text atau teks yang bisa diklik juga perlu diperhatikan. Misalnya, sebuah artikel tentang komputer memberikan tautan dengan teks “panduan windows”. Teks tersebut memberi petunjuk tentang isi halaman tujuan. Akan tetapi, jika setiap backlink menggunakan kata kunci komersial yang sama secara berlebihan, pola tersebut justru bisa terlihat tidak alami. Variasi teks tautan yang sesuai dengan konteks biasanya lebih masuk akal daripada memaksakan satu kata kunci ke setiap tautan.
Hal lain yang perlu dipahami adalah backlink bukan jaminan halaman akan langsung naik peringkat. Tautan mungkin membantu mesin pencari menemukan sebuah halaman atau memahami hubungan antarsitus, tetapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi berbagai faktor.
Karena itu, ketika mendapatkan backlink baru, jangan langsung berharap wah ini bagus :), Kamu bisa memeriksa apakah tautan tersebut benar-benar aktif, berasal dari halaman yang relevan, dapat dibuka, dan memberikan manfaat yang masuk akal bagi website.
Apakah Backlink Masih Berpengaruh terhadap Ranking Google?
Jawabannya adalah IYA, backlink masih relevan dan sepower itu dalam SEO, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan posisi sebuah halaman. Google menggunakan tautan untuk menemukan halaman baru dan memahami hubungan antarkonten di internet.
Misal, website pertama memiliki ratusan backlink dari situs yang tidak berkaitan dengan topiknya, sedangkan website kedua hanya memperoleh beberapa backling dari sumber yang benar-benar relevan dan memiliki pembaca yang sesuai. Website pertama memang terlihat bagus jika diukur hanya berdasarkan jumlah tautan.
Namun, jumlah backlink tersebut belum cukup untuk menunjukkan bahwa backlink tersebut lebih bermanfaat. Search Engines perlu memahami konteks tautan dan kualitas halaman secara lebih luas, bukan hanya sekedar menghitung berapa banyak website yang memberikan backlink. Semuanya tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor website tersebut, yaitu bagaimana kualitas SEO Onpage dan Offpage nya.
Hal tersebut juga menjelaskan mengapa sebuah website baru masih berpeluang mendapatkan peringkat yang baik meskipun belum memiliki banyak backlink. Jika halaman tersebut berkualitas yaitu menjawab pertanyaan pembaca dengan lebih lengkap, memiliki struktur yang jelas, dapat diakses dengan baik, serta memberikan informasi yang lebih berguna dibandingkan pesaing (yang punya banyak backlink), halaman itu tetap memiliki peluang untuk tampil di hasil pencarian. Backlink dapat membantu, tetapi tidak otomatis menutupi kelemahan konten atau masalah teknis lainnya.
Contoh:
Jika kamu mengelola situs tentang tips kesehatan keuangan, satu backlink dari portal media nasional ternama atau situs resmi OJK misalnya, jauh lebih berharga daripada 500 backlink dari blog fashion, komputer, atau lainnya yang tidak ada hubungannya dengan finansial.
Jadi, jika ingin website lebih siap menghadapi AI Search, kamu bisa membangun dua hal saja yaitu kualitas informasi di dalam website, termasuk Seo onpage dan off pagenya, serta reputasi di luar website (backlink). Buat konten yang menjawab pertanyaan secara jelas, sertakan pengalaman atau data yang dapat diperiksa, dan usahakan agar website layak dirujuk oleh sumber lain.
Backlink menjadi bagian dari upaya membangun reputasi tersebut, tetapi bukan jalan pintas untuk memaksa AI menampilkannya.
Pendapatmu? Yuk share dikolom komentar:)
That’s It!








Leave a Comment